
Hannah Catrelle (Mirrah Foulkes), seorang turis asing yang sudah tinggal dan menetap di Bali selama hampir satu tahun, harus menghadapi kejadian yang sangat menakutkan. Ia berhadapan dengan sebuah peristiwa peledakan bom Bali. Meskipun selamat, ia tetap harus mengerahkan tenaganya untuk membantu menolong dan mencari korban luka-luka dan meninggal, bahkan yang terjebak di dalam reruntuhan. Di tengah pencariannya itu, ia berkenalan dengan Haji Ismail, seorang warga Muslim Bali yang diperankan oleh Joshua Pandaleki. Dari perkenalan tersebut, pandangan Hannah terhadap kaum Muslim menjadi berubah total.
Sementara di setting cerita yang lain sebelum pengeboman terjadi, sekelompok teroris pimpinan Hambali (Surya Saputra) yang sedang mengadakan pertemuan di Thailand Selatan, berembuk untuk menentukan target operasi pemboman. Salah seorang dari komplotan tersebut, Mukhlas, bersikeras untuk meledakkan bom di Bali, sementara Hambali yang sudah berbulan-bulan menjadi buronan menentang pendapatnya tersebut. namun pada akhirnya, Bali menjadi tujuan selanjutnya.
Sementara di Bali, Imam Samudera, Amrozi, dan adiknya Ali Imron sedang mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat bom.
Di tempat lain, tepatnya tujuh bulan semenjak peristiwa bom kedua, seorang wartawati asal Australia, Liz Thompson yang diperankan oleh Raelee Hill, datang ke Bali untuk melaksanakan tugasnya mencari berita tentang perkembangan bom Bali, dalam perjalanannya, Liz berkenalan dengan seseorang bernama Wayan (Alex Komang), seorang supir taksi yang kehilangan adiknya dalam peristiwa bom Bali II. Dari situ timbul rasa simpati dan empati Liz terhadap warga Bali yang menjadi korban.
Result :
Film ini menuntut kita untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dalam kenyataannya, sikap para teroris yang sangat membenci warga asing terutama Amerika dipicu oleh kekesalan dan dendam mereka terhadap penzholiman-penzholiman yang dilakukan zionis seperti Israel dan Amerika yang telah membunuh ratusan bahkan ribuan penduduk Muslim di Palestina, Irak, Afghanistan, dan lainnya, dengan alasan kekuasaan dan perselisihan agama. Dari situ timbullah sebuah idealisme baru dengan dalih jihad fisabilillah yang membenarkan segala cara untuk menghancurkan orang-orang kafir dengan melakukan bom bunuh diri. Namun di sisi lain, tidak semua orang Islam berpikiran seperti itu.
Film dengan ide ringan namun dengan riset yang nggak dianggap enteng ini membuat gue sebagai pecinta film merasakan nikmatnya menonton sebuah film drama yang bisa merubah pandangan orang selama ini. Dari segi alur, film ini banyak menunjukkan keunggulannya, namun dari sisi akting beberapa personel, setting, pronounce serta pengucapan kalimat-kalimat yang nggak luwes dan natural seperti dalam penggunaan bahasa Inggris dan lafadz-lafadz Arab, menurut gue masih kurang sempurna, mengingat film bukanlah sebuan sinetron yang mengandalkan script bukan penghayatan. Di awal-awal gue nonton rasanya masih kurang ngena, alur dan editannya masih terlihat kaku... namun setelah gue ikutin sampai akhir cerita... lumayan lah untuk sebuah film drama yang "based on true event"...
Mengenai riset, film ini nggak main-main. Hampir seluruh bagian-bagian yang nyata dan detail sekecil apapun even itu karakter dan tokoh-tokoh dibuat semirip mungkin dengan karakter aslinya, terlebih kepada hal yang 'nggak penting' tapi bener... yaitu tentang adanya gambar-gambar porno di laptop Imam Samudera. Gila... itu bener banget... (soalnya pas penggerebekan oleh polisi sempet kegep ada foto2 bokep gitu deh...)
Ada beberapa karakter yang gue suka dalam film ini:
Pertama, karakter Mukhlas... nggak tau kenapa, mungkin dari aura ke-ikhwanannya dia aja yang bikin gue seneng.
Kedua, Hannah Catrelle. Abis cantik sih...
Ketiga, Amrozi... perjuangan keras menghayati peran asli memang nggak gampang... good job...